Senja
ini sama seperti senja disaat kita bercanda bersama, meneguk gula-gula ilmu
dari sang murobbi, saling membully atara satu dengan yang lain dan menangis
bersama dikala kita dipisahkan dalam forum yang berbeda.
Indah. namun itu dulu,
sekarang semuanya hanya menjadi kenangan.
Kita sudah memisah menyebar menuai benih-benih baru akan dakwah. Akan
tetapi, senja ini mengingatkan akan kekuatan izzah kita dulu, mempertahankan
hijab syar’i yang sangat renta akan hinaan dan cemoohan. dan aku sangat
mengingat salah satu saudariku tercinta
dalam memperjuangkan hijabnya. Busana terindah nya. Busana barunya kala itu.
Akan tetapi semua hanya tingkal kenangan. Ku buka akun media sosialnya dan
kembali ku baca salah satu catatannya. Begitu mengiris hati ketika membacanya.
Penuh perjuangan, pengorbanan dan kesabaran.
“Haruskah ku
ceritakan semuanya? Haruskah?”
Ketika rasa sakit itu
benar-benar memuncak, tak tertahankan. Haruskah ku membela? Atas segala cacian
yang kau ucapkan, atas hinaan, cemoohan, umpatan tentang hijab syar’i ku ini.
Simbol ketaqwaanku. Bukti kecintaanku atas Rabbku. Haruskah ku melawannya dan
mengungkapkan kebencianku??
----
Hijab syar’i ini
adalah bukti ketaqwaanku, kecintaanku menggapai ridho-Nya. Sebab aku bukanlah manusia terbaik. Aku bukan
malaikat yang tak akan pernah melakukan dosa. Aku hanyalah manusia biasa yang
ingin memperbaiki diri menjadi sebaik-baiknya di mata-Nya. Ketika kelakuanku
yang kadang menyilang dan menyebrang dari garis kebenaran, jangan kau salah kan
hijabku. Namun tegurlah aku, nasehati tanpa menyudutkanku, bimbinglah diri ini
yang terlampau salah, yang baru beberapa hari mengenal nya. Ingatkan aku dikala
kesalahan menyapa. Namun jangan sekali-kali kau menghina hijab ku. Jangan kau
salahkan hijabku. Hanya itu yang aku inginkan.
Aku yang awam akan
nilai keislaman, dengan tertatih mencoba untuk belajar, terus belajar menjadi
manusia terbaik. Dengan bimbingan saudari-saudariku tercinta dalam dekapan
ukhuwah yang sangat bersabar, tak pernah jera menghadapi diri ini yang sungguh hina. Dengan mengucap bismillah
diiringi saudari-saudariku. Aku memutuskan untuk menggunakan hijab syar’iku.
Jilbab lebar menjuntai menutupi dada dengan baju yang longgar dan tak
transparan. Aku hijrah. Hijrah dari masa jahiliyahku yang sangat kelam, menuju
jalan yang insyaallah di ridhoi-Nya. dijalan ini. Jalan cinta. Dengan kadar
keimanan yang masih naik turun, ku lewati masa-masa sulit dengan jilbab baruku
dan penampilan baruku. Cemoohan dan hinaan tak terelakkan menyambutku ketika
pertama memakainya. Jilbab syar’iku. sebenarnya menggunakan hijab syar’i ini adalah sebuah nazhar ketika
aku lulus darri SMA, dan alhmdulillah, berkat saudari seimanku. Aku dapat
benar-benar melakukannya dan menunaikan nazharku yang kala itu dianggap
mustahil oleh teman-teman sekelas. Yang tak akan kuat dilakukan oleh anak yang
di kenal sangat tomboi,urakan dan nakal. Dan saat ini aku bisa
membuktikannya... ^^
Namun, perjalanan ini
tak semulus jalan tol. Tanpa hambatan dan cobaan. Cemoohan dan hinaan sudah
menjadi makanan sehari-hariku, namun itu tak berlangsung lama. Kawan-kawan
akhirnya mengerti dengan kondisiku. Akan tetapi titik akhir kesabaranku benar-benar memuncak.
Dengan segala keterbatasan iman yang ku miliki, sebab aku bukanlah malaikat.
Aku orang awam yang baru belajar islam sesungguhnya. Perbuatan-perbuatan tercela
masih sering kulakukan, noktah-noktah dosa masih banyak yang menempel dalam
hatiku. Dan aku mengakui segala kesalahanku. Egoisku, amarahku, prilakuku yang
salah, tak mencerminkan seorang muslimah sejati, bahkan memfitnah teman
sendiri. Oke fix! Itu semua masih aku lakukan.! Tapi kawan, jangan kau salahkan
hijabku ini!!! Ku mohon... salahkan lah jiwa ini yang sedang terlarut akan
kemaksiatan berkepanjangan. Jangan kau biarkan amarah ini menggerogoti hatiku
yang semakin menipis. Entah mengapa
setiap kawan yang menghujat sikapku dengan cara menghina hijabku, aku
benar-benar tak terima...
Perih, teriris, dan
sakit kurasa saat itu, ternyata Allah begitu sayang kepadaku. Dengan
menghadirkan saudari-saudari seimanku yang sanggup menopang segala masalah dan curahan
hatiku yang sangat kekanak-kanakan. Mereka selalu menasehatiku, membimbingku
untuk tetap bersabar. Aku kembali bangkit. Kususuri jalanan berkelok itu dengan
bersungguh-sungguh tanpa terpotong-potong.
Dan benar. Allah tidak menguji hambanya melebihi batas
kemampuannya. Aku siap dengan segala
hinaan, jika masih saja datang. Aku berusaha menjadi seorang muslimah sejati.
Yang mengenal Rabbnya, mengamalkan perintahnya dan mengingat akan azab nya yang
pedih.
Hari
ini, aku benar-benar bermetamorfose menjadi muslimah sejati. Menjadi wanita
yang merindu surga, wanita tangguh, wanita yang tabah, dan wanita pemberani.
Itu tekatku. Doakan aku ukhtii.....
Air mataku tak sanggup ku bendung. Tumpah ruah membasahi
jilbab biruku. Begitu kuatnya dirinya kala itu, menghadapi hinaan yang tiada
henti. Catatan ini akan tetap abadi. Sepenggal kisah yang sangat inspiratif.
Namun itu semua hanya kenangan. Kenangan perjuangan wanita tangguh yang ku
kenal. Sebab hanya tulisan ini yang dapat mewakilkan kisah perjalanan singkat
hidupnya. Setahun lalu saudariku mendapat cobaan yang sangat luar biasa.
kecelakaan maut merenggut nyawanya. Kecelakaan ketika beliau akan berangkat
menemui kami, di forum senja ini. Di lingkaran ini. Disusut kota ini. Di tepi
danau indah bertaburan bunga teratai. Doa kami akan selalu menyertaimu
saudariku..... dan perjuangan hijab syar’imu akan kami kenang selamanya.
Perjuangan dan kesabaran mu selama ini tak akan sia-sia. Salam rindu dari kami.
di forum senja ^_^
Al-husna room, 30 November 2014
21.42

0 komentar:
Posting Komentar