Senin, 01 Desember 2014

Hijab i'm in love



Senja ini sama seperti senja disaat kita bercanda bersama, meneguk gula-gula ilmu dari sang murobbi, saling membully atara satu dengan yang lain dan menangis bersama dikala kita dipisahkan dalam forum yang berbeda.
Indah. namun itu dulu, sekarang semuanya hanya menjadi kenangan.  Kita sudah memisah menyebar menuai benih-benih baru akan dakwah. Akan tetapi, senja ini mengingatkan akan kekuatan izzah kita dulu, mempertahankan hijab syar’i yang sangat renta akan hinaan dan cemoohan. dan aku sangat mengingat  salah satu saudariku tercinta dalam memperjuangkan hijabnya. Busana terindah nya. Busana barunya kala itu. Akan tetapi semua hanya tingkal kenangan. Ku buka akun media sosialnya dan kembali ku baca salah satu catatannya. Begitu mengiris hati ketika membacanya. Penuh perjuangan, pengorbanan dan kesabaran.  


“Haruskah ku ceritakan semuanya? Haruskah?”
Ketika rasa sakit itu benar-benar memuncak, tak tertahankan. Haruskah ku membela? Atas segala cacian yang kau ucapkan, atas hinaan, cemoohan, umpatan tentang hijab syar’i ku ini. Simbol ketaqwaanku. Bukti kecintaanku atas Rabbku. Haruskah ku melawannya dan mengungkapkan kebencianku??
­­                ----
Hijab syar’i ini adalah bukti ketaqwaanku, kecintaanku menggapai ridho-Nya.  Sebab aku bukanlah manusia terbaik. Aku bukan malaikat yang tak akan pernah melakukan dosa. Aku hanyalah manusia biasa yang ingin memperbaiki diri menjadi sebaik-baiknya di mata-Nya. Ketika kelakuanku yang kadang menyilang dan menyebrang dari garis kebenaran, jangan kau salah kan hijabku. Namun tegurlah aku, nasehati tanpa menyudutkanku, bimbinglah diri ini yang terlampau salah, yang baru beberapa hari mengenal nya. Ingatkan aku dikala kesalahan menyapa. Namun jangan sekali-kali kau menghina hijab ku. Jangan kau salahkan hijabku. Hanya itu yang aku inginkan.
Aku yang awam akan nilai keislaman, dengan tertatih mencoba untuk belajar, terus belajar menjadi manusia terbaik. Dengan bimbingan saudari-saudariku tercinta dalam dekapan ukhuwah yang sangat bersabar, tak pernah jera menghadapi diri ini  yang sungguh hina. Dengan mengucap bismillah diiringi saudari-saudariku. Aku memutuskan untuk menggunakan hijab syar’iku. Jilbab lebar menjuntai menutupi dada dengan baju yang longgar dan tak transparan. Aku hijrah. Hijrah dari masa jahiliyahku yang sangat kelam, menuju jalan yang insyaallah di ridhoi-Nya. dijalan ini. Jalan cinta. Dengan kadar keimanan yang masih naik turun, ku lewati masa-masa sulit dengan jilbab baruku dan penampilan baruku. Cemoohan dan hinaan tak terelakkan menyambutku ketika pertama memakainya. Jilbab syar’iku. sebenarnya menggunakan  hijab syar’i ini adalah sebuah nazhar ketika aku lulus darri SMA, dan alhmdulillah, berkat saudari seimanku. Aku dapat benar-benar melakukannya dan menunaikan nazharku yang kala itu dianggap mustahil oleh teman-teman sekelas. Yang tak akan kuat dilakukan oleh anak yang di kenal sangat tomboi,urakan dan nakal. Dan saat ini aku bisa membuktikannya... ^^
Namun, perjalanan ini tak semulus jalan tol. Tanpa hambatan dan cobaan. Cemoohan dan hinaan sudah menjadi makanan sehari-hariku, namun itu tak berlangsung lama. Kawan-kawan akhirnya mengerti dengan kondisiku. Akan tetapi  titik akhir kesabaranku benar-benar memuncak. Dengan segala keterbatasan iman yang ku miliki, sebab aku bukanlah malaikat. Aku orang awam yang baru belajar islam sesungguhnya. Perbuatan-perbuatan tercela masih sering kulakukan, noktah-noktah dosa masih banyak yang menempel dalam hatiku. Dan aku mengakui segala kesalahanku. Egoisku, amarahku, prilakuku yang salah, tak mencerminkan seorang muslimah sejati, bahkan memfitnah teman sendiri. Oke fix! Itu semua masih aku lakukan.! Tapi kawan, jangan kau salahkan hijabku ini!!! Ku mohon... salahkan lah jiwa ini yang sedang terlarut akan kemaksiatan berkepanjangan. Jangan kau biarkan amarah ini menggerogoti hatiku yang semakin menipis.  Entah mengapa setiap kawan yang menghujat sikapku dengan cara menghina hijabku, aku benar-benar tak terima...
Perih, teriris, dan sakit kurasa saat itu, ternyata Allah begitu sayang kepadaku. Dengan menghadirkan saudari-saudari seimanku yang sanggup menopang segala masalah dan curahan hatiku yang sangat kekanak-kanakan. Mereka selalu menasehatiku, membimbingku untuk tetap bersabar. Aku kembali bangkit. Kususuri jalanan berkelok itu dengan bersungguh-sungguh tanpa terpotong-potong.  Dan benar. Allah tidak menguji hambanya melebihi batas kemampuannya.  Aku siap dengan segala hinaan, jika masih saja datang. Aku berusaha menjadi seorang muslimah sejati. Yang mengenal Rabbnya, mengamalkan perintahnya dan mengingat akan azab nya yang pedih.
Hari ini, aku benar-benar bermetamorfose menjadi muslimah sejati. Menjadi wanita yang merindu surga, wanita tangguh, wanita yang tabah, dan wanita pemberani. Itu tekatku. Doakan aku ukhtii.....



Air mataku tak sanggup ku bendung. Tumpah ruah membasahi jilbab biruku. Begitu kuatnya dirinya kala itu, menghadapi hinaan yang tiada henti. Catatan ini akan tetap abadi. Sepenggal kisah yang sangat inspiratif. Namun itu semua hanya kenangan. Kenangan perjuangan wanita tangguh yang ku kenal. Sebab hanya tulisan ini yang dapat mewakilkan kisah perjalanan singkat hidupnya. Setahun lalu saudariku mendapat cobaan yang sangat luar biasa. kecelakaan maut merenggut nyawanya. Kecelakaan ketika beliau akan berangkat menemui kami, di forum senja ini. Di lingkaran ini. Disusut kota ini. Di tepi danau indah bertaburan bunga teratai. Doa kami akan selalu menyertaimu saudariku..... dan perjuangan hijab syar’imu akan kami kenang selamanya. Perjuangan dan kesabaran mu selama ini tak akan sia-sia. Salam rindu dari kami. di forum senja ^_^


Al-husna room, 30 November 2014
21.42
Share:

0 komentar:

Posting Komentar